SELAMAT DATANG! SEMOGA PERSEMBAHAN KAMI DALAM BLOG INI BERMANFAAT! JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR PADA TULISAN KAMI! TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG!

Thursday, April 19, 2018

TEORI PEMBELAJARAN BAHASA


Hasil gambar untuk PEMBELAJARAN BAHASA
A. Teori Belajar Bahasa

1.   Empirisme
Para penganut teori empiris berpangkal pada keyakinan bahwa kemampuan belajar bahasa sebenarnya hanya merupakan sebagian dari kemampuan belajar pada umumnya. Mereka beranggapan bahwa kemampuan itu bukan merupakan kemampuan bawaan. Selain itu mereka menekankan pentingnya faktor lingkungan dan pengalaman nyata dalam perkembangan kemampuan tersebut. pandangan itu juga bertalian dengan keyakinan yang bertahan sejak zaman dahulu, bahwa proses belajar pada manusia banyak persamaannya dengan proses belajar pada binatang.

Berdasarkan percobaan-percobaan yang dilakukan, para penganut behaviorisme menyimpulkan bahwa suatu organisme dikondisikan untuk memberikan respons terhadap stimulus. Karena semua belajar berkondisi dan karena cara belajar manusia sama dengan binatang, maka proses belajar pada manusia juga dikondisikan dengan cara yang sama seperti proses belajar pada binatang. Mereka yakin bahwa pada manusia yang menjadi penguat (reinforcement) adalah lingkungan (Chastain dalam Hadley, 1993).
Skinner dalam bukunya Verbal Behavior (1957) menggunakan istilah pengkondisian operant untuk belajar verbal (verbal learning). Menurut pandangannya bahasa merupakan sistem respons yang canggih yang dipelajari manusia melalui proses pengkondisian yang “otomatik”. Menurut pendapatnya, ada pola-pola bahasa yang tidak diikuti ganjaran, dan ada pula yang diikuti ganjaran (menghasilkan sesuatu yang menyenangkan). Yang akan berkembang pada seseorang hanyalah pola-pola yang diikuti dengan ganjaran saja. Menurut pengikut Skinner pikiran manusia adalah suatu tabula rasa (lembaran kosong) yang kelak akan diisi dengan asosiasi antara stimulus yang berasal dari lingkungan dengan respons-respons yang dipilih dari luar organisme.
Hadley menyimpulkan teori behaviors sebagai berikut:
a.      Proses belajar pada manusia sama dengan proses belajar pada binatang.
b.     Pikiran anak merupakan tabula rasa. Tidak ada kemampuan belajar bahasa    yang merupakan bawaan lahir.
c.      Data psikologi dibatasi pada yang dapat diamati.
d.   Semua perilaku merupakan respons terhadap stimulus. Perilaku terbentuk   dalam rangkaian asosiatif; sebenarnya semua perilaku bersifat asosiatif.
e.  Pengkondisian mencakup penguatan asosiasi antara stimulus dan respons   melalui ganjaran (reinforcment).
f.  Bahasa manusia merupakan sistem respons yang canggih yang dipelajari melalui pengkondisian operant.
Pandangan behaviorisme mendapat kecaman tajam dari kelompok yang dikenal sebagai kaum rasionalis. Chomsky misalnya menganggap bahwa perilaku bahasa itu jauh lebih rumit daripada suatu hubungan S – R, dan bahwa teori Skinner tidak mampu menjelaskan kreativitas anak dalam mengembangkan bahasanya. (Chomsky dalam Hadley, 1993). Kaum behavioris tidak dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana misalnya, seorang anak berdasarkan beberapa kata saja dapat membuat banyak kalimat. Selain itu menurut Hadley McLaunhlin mengeritik bahwa kajian Skinner itu tidak berdasarkan pada penelitian terhadap manusia. Kelompok behaviorisme tidak pernah melakukan penelitian terhadap bahasa anak, apalagi berkaitan dengan pemerolehan bahasa kedua. Selain McLaughlin juga mengemukakan bahwa dalam kenyataannya proses peniruan dan penguatan tidak perlu berperan di dalam perkembangan bahasa anak. Orang tua biasanya tidak mengoreksi kasalahan-kesalahan gramatikal pada bahasa anaknya, melainkan merespons berdasarkan isinya saja.
Kritik Chomsky terhadap teori behaviorisme merupakan ujung lain pada rentangan antara teori empiris dan rasionalis.
2.      Rasionalisme
a.      Teori Tata Bahasa Universal
Aliran rasionalisme memandang bahasa sebagai kemampuan manusiawi, hanya dimiliki oleh manusia. Selain itu Anda juga sudah mengenal pengertian “perangkat pemerolehan bahasa language asquisition device/LAD yang dikemukakan oleh Chomsky. McNeil menyatakan bahwa LAD tersebut merupakan bawaan lahir dan meliputi: (1) kemampuan membedakan bunyi bahasa dan bunyi-bunyi lain; (2) kemampuan menyusun bahasa menjadi sistem struktur; (3) pengetahuan tentang yang mungkin/tidak mungkin diterima dalam sistem linguistik; (4) kemampuan untuk membangun sistem paling sederhana yang mungkin berdasarkan data yang tersedia. Dengan “LAD” itu anak-anak kecil dalam waktu yang singkat dengan masukan terbatas mampu menguasai bahasa.
Teori tata bahasa universal mencakup seperangkat elemen gramatikal atau prinsip-prinsip yang secara alami ada pada semua bahasa manusia yang memungkinkan anak-anak mengorganisasikan masukan yang diterima dengan cara tertentu. Prinsip-prinsip tersebut merupakan produk “LAD” dan mencakupi prinsip-prinsip universal substantif serta prinsip universal formal. Prinsip substantif terdiri dari unsur-unsur bahasa seperti fonem dan kategori sintaksik (kata benda, kata kerja). Prinsip formal bersifat abstrak yang membatasi aturan-aturan atau pilihan yang dapat digunakan anak-anak untuk membentuk suatu tata bahasa.
Menurut Chomsky seperti yang diuraikan oleh Hadley, prinsip-prinsip universal yang “ditemukan” oleh anak-anak membentuk suatu “tata bahasa inti” yang sama dalam semua bahasa. Sebaliknya, “ tata bahasa periferal” terdiri dari aturan-aturan yang tidak ditentukan oleh bahasa universal,  melainkan yang mungkin berasal dari bentuk bahasa yang lebih tua, diserap dari bahasa lain, atau mungkin juga terbentuk pada waktu tertentu.
Hadley mengakui bahwa teori tata bahasa universal Chomsky serta pendekatan-pendekatan yang berasal dari teori tersebut sangat kompleks untuk dipahami. Ia menyimpulkan ciri-ciri teori itu sebagai berikut:
1)      Bahasa adalah kemampuan manusia, yang diturunkan secara genetis.
2)      Belajar bahasa ditentukan oleh mekanisme biologis.
3)      Bentuk tertinggi pada setiap bahasa manusia adalah fungsi tata bahasa universal, yaitu seperangkat prinsip yang abstrak yang merupakan bawaan lahir.
4)      Setiap bahasa memiliki “parameter”, yang “latarnya” dipelajari berdasarkan data lingustik.
5)      Ada tata “bahasa inti” yang sama dengan prinsip-prinsip universal, dan tata bahasa periferal yang mancakupi unsur-unsur yang tidak sama dengan tata bahasa universal.
6)      Tata bahasa inti secara umum dianggap lebih mudah dipahami daripada bahasa periferal. (Hadley, 1993:50).
Menurut McLaughlin, tata bahasa universal itu sendiri tidak menyangkut pemerolehan kedua; akan tetapi beberapa peneliti bahasa kedua menggunakan prinsip-prinsip tata bahasa universal untuk memperoleh penjelasan yang memadai tentang karakteristik bahasa antara ‘inter-languages’. Beberapa ahli mengemukakan asumsi bahwa prinsip-prinsip universal yang digunakan anak untuk membentuk bahasa ibunya, juga ada pada orang dewasa; namun banyak pula yang yakin bahwa orang dewasa tidak lagi memiliki prinsip-prinsip itu sehingga mereka harus menerapkan proses kognitif yang berbeda untuk mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing (Lersen dalam Hadley, 1993).
b.      Teori Monitor
Secara ringkas Teori Krashen dapat dikemukakan sebagai berikut:
1)      Orang dewasa dapat mengembangkan kompetensi dalam bahasa kedua melalui proses pemerolehan dan proses belajar.
2)      Pemerolehan, sama dengan proses yang dialami anak-anak dalam menguasai bahasa ibunya. Belajar melibatkan pengetahuan sadar tentang aturan-aturan .
3)      Jika pemerolehan terjadi secara alamiah, urutan unsur-unsur gramatikal dapat diramalkan.
4)      Belajar hanya berfungsi sebagai editor apa yang dihasilkan, dan hanya dapat menjadi monitor suatu unjuk lalu bahasa jika disertai kondisi yang memadai.
5)      Struktur baru hanya dapat dikuasai bila ada “masukan-masukan yang dapat dipahami”. Masukan tidak perlu dirancang dengan teliti, jika komunikasi berhasil “masukan tidak perlu dirancang dengan teliti, jika komunikasi berhasil “masukan yang dapat dipahami” akan terbentuk.
6)      Pemerolehan hanya akan terjadi jika ada motivasi serta konsep diri dan tidak ada kecemasan. (Hadley, 1983:53)
Kritik terhadap teori monitor Krashen dikemukakan oleh Musel dan Carr (1981) yang mempertanyakan perbedaan antara istilah “pemerolehan” dan “belajar” dan aturan “sadar” dan “tak sadar”. Selain itu banyak diajukan keberatan tentang asumsi nativis yang mendasarinya bahwa belajar bahasa berbeda dengan jenis belajar lainnya.
Berkaitan dengan perbedaan pemerolehan dan belajar, proses pemerolehan yang terjadi di bawah-sadar anak-anak mendapat intuisi yang “memberikan pertimbangan” apakah suatu bentuk benar atau salah berterima atau tidak. Intuisi ini sering disebut sebagai rasa bahasa (S. Hardjono), dan tidak diperoleh pelajar melalui proses belajar formal terutama pada tahap permulaan.
c.       Teori Kognitif
McLaughlin mengemukakan karakteristik teori kognitif sebagai berikut.
1)      Psikologi kognitif lebih menekankan proses mengetahui ‘knowing’ daripada merespons dan membahas studi tentang proses mental yang terjadi dalam pemerolehan dan penggunaan pengetahuan. Fokusnya menurut Laughlin, tidak pada hubungan S – R, melainkan pada peristiwa mental.
2)      Pendekatan kognitif menekankan struktur atau organisasi mental. Sesuai dengan pandangan Piaget bahwa semua makhluk dilahirkan dengan kecenderungan yang tidak berbeda untuk mengorganisasikan pengalaman; psikologi kognitif berasumsi bahwa pengetahuan manusia itu terorganisasi dan segala yang baru dipelajari akan dipadukan dengan struktur tersebut.
3)      Teori Kognitif memandang pelajar lebih sebagai seseorang yang berindak, membentuk, dan merancang daripada sekedar menerima rangsangan (stimulus) dari lingkungannya. Karena itu, untuk memperoleh pemahaman yang utuh “kognisi” manusia diperlukan analisis strategi-strategi yang digunakan untuk berpikir, memahami, mengingat, dan menghasilkan bahasa.
Menurut pandangan/teori kognitif, belajar adalah pemerolehan keterampilan kognitif yang kompleks. Dalam belajar berbahasa untuk mendapatkan kelancaran yang memadai sub-sub keterampilan melakukan tugas yang kompleks itu halus dilatihkan, diotomatisasikan, diintegrasikan, di-organisasikan ke dalam sistem aturan, yang terus menerus direstrukturisasi.
Automatisasi mengacu pada proses pembiasaan suatu keterampilan melalui latihan praktis. Dalam hal ini McLaughlin menggunakan pemrosesan otomatis dan pemrosesan terkendali. Pada pemrosesan otomtis, simpul-simpul saraf tertentu diaktifkan setiap ada masukan informasi. Pola pengaktifan ini berkembang menjadi respons yang dikuasai secara lambat laun. Jika respons otomatis dikuasai, sulit sekali ditekan atau diganti.
Dalam pemrosesan terkendali simpul saraf ingatan diaktifkan mengikuti urutan tertentu pada jangka tertentu sehingga respons belum terkuasai atau terotomatisasi. Agar respon dapat terjadi pelajar harus memperhatikan proses dengan sungguh-sungguh. Proses ini tidak akan terjadi jika ada hambatan atau gangguan.
Dalam gaya sehari-hari pelajar menggunakan bentuk bahasa informal dan tidak terlalu menghiraukan aturan tata bahasa. Gaya ini digunakan ketika bahasa diproses secara otomatis. Sebaliknya, gaya hati-hati terjadi jika pelajar melakukan pemantauan (monitor) yang ketat terhadap bentuk bahasa yang digunakan. Pemahaman ini mewujudkan pemrosesan bahasa yang terkendali yang dilakukan untuk menyelesaikan tugas.
Shiffren dan Schneider mengemukakan pemrosesan terkendali dan otomatis, sedangkan Rod Ellis dan Anderson membedakan antara pengetahuan tentang apa (misalnya dalam bentuk definisi), bersifat eksplisit, disadari, dan dapat dinyatakan oleh pelajar. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana (misalnya bagaimana menggunakan bahasa sesuai dengan aturan yang berlaku). Pengetahuan prosedural mungkin amplisit atau eksplisit, disadari atau tidak disadari. Terkendali atau otomatis. Menurut Ellis, model Anderson mencakup tiga tahap, yaitu (1) tahap kognitif, ketika pelajar menggunakan pengetahuan deklaratif yang sadar; (2) tahap asosiatif, ketika mereka mulai mengolah pengetahuannya secara prosedural, dan (3) tahap otonom, ketika unjuk laku tidak mengandung kekeliruan. (Hadley, 1993:56).
Teori kognitif menyatakan bahwa dalam belajar, pengembangan harus lebih berfokus pada keterampilan yang kompleks bukan pada otomatisasi subketerampilannya. Dalam proses belajar menurut pandangan ini, otomatisasi maupun restrukturisasi merupakan proses belajar yang sangat penting. Setiap kali ada informasi baru yang dipelajari maka organisasi (struktur) informasi yang telah dimiliki pelajar akan diubah (direstrukturisasi), sesuai dengan informasi baru (McLaughlin dalam Hadley, 1993).
Ausubel (1968) mencoba menerapkan prinsip-prinsip umum psikologi kognitif dalam konteks pendidikan. Ia menekankan pentingnya peran serta mental pelajar secara aktif dalam menyelesaikan tugas belajar yang bermakna. Ausbel percaya bahwa ada dua jenis belajar yaitu belajar hafalan dan bermakna. Belajar hafalan bersifat arbiter dan berbatim, artinya bahan ajar yang dipelajari siswa hanya dihafal saja, tidak memandu ke dalam struktur kognitif pelajar. Apa yang dipelajari seakan-akan tidak berhubungan dengan apa yang sudah dikuasainya. Hal ini terjadi misalnya jika pelajar disuruh menghafalkan kata-kata lepas yang tidak berkaitan dengan bacaan atau tulisan.
Proses belajar bermakna sebaliknya, dapat dihubungkan dengan sesuatu yang sudah diketahui pelajar sehingga dengan mudah dipadukan dengan sistem kognitif yang telah dimiliki. Menurut Ausubel, agar belajar menjadi bermakna pelajar harus memiliki minat untuk belajar serta kemauan untuk secara bermakna menghubungkan bahan yang baru dengan apa yang telah diketahui. Ausubel menekankan bahwa agar efektif dan permanen, belajar harus bermakna.
Hadley menyimpulkan beberapa pokok pikiran yang penting dalam teori kognitif.
1)      Belajar bermula dari kegiatan mental yang internal. belajar bahasa adalah salah satu jenis proses belajar dan melibatkan pemerolehan keterampilan yang kompleks.
2)      Sub-subketerampilan yang merupakan bagian dalam tugas. Belajar bahasa yang kompleks harus diketik, diotomatisasikan, serta dipadukan ke dalam gambaran internal yang terorganisasi atau sistem aturan di dalam struktur kognitif yang ada.
3)      Gambaran (representasi) internal bahasa selalu direstrukturisasi setiap kali terjadi perkembangan.
4)      Keterampilan dipelajari setelah melalui pemrosesan terkendali.
5)      Kemampuan produktif pelajar berbeda-beda bergantung pada perhatian yang diberikan terhadap bentuk bahasa yang digunakan.
6)      Ahli-ahli kognitif membedakan dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan deklaratif  dan pengetahuan prosedural.
7)      Ausubel menemukan “belajar yang bermakna” yaitu belajar yang dapat Dihubungkan dengan yang sudah diketahui, bukan belajar hafalan yang arbitner dan verbatim.
d.      Model Holodinamik
Salah satu model belajar bahasa pada tahun 80-an ialah holodinamik (selanjutnya disebut dengan singkatan HDM = Holodynamic Model). Model yang dikemukakan oleh Renzo Titone (1981) ini merupakan sintensis antara ciri-ciri aliran behaviorisme dan kongnitivisme. Namun, model ini menganggap aspek kepribadian sebagai komponen yang sangat penting dalam perilaku berbahasa.
HDM mencakup tiga tingkat yang berurutan. Tingkat tertinggi disebut tingkat taktik yang kira-kira sama dengan struktur luar bahasa menurut aliran transformasi. Operasi taktik yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa dalam wujud keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Untuk menyempurnakan tingkat tingkat taktik ini diperlukan koordinasi dan integrasi mental.
Tingkat yang lebih rendah daripada taktik ialah tingkat strategik. Tingkat ini lebih berciri kognitif dan menyangkut aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa. Aturan-aturan yang berlaku dalam B2 diasimilasikan baik secara induktif maupun deduktif. Jika aturan-aturan itu telah diasumsikan, maka pelajar dapat memilih dan menggunakan aturan-aturan yang tepat sesuai dengan konteks. Seperti halnya pada tingkat taktik proses belajar yang sebenarnya hanya terjadi bila pelajar telah mampu mengendalikan operasi strategi dalam penggunaan bahasa. Operasi ini dapat di-sejajarkan dengan struktur dalam pada aliran transformasi.
Pada HDM tingkat yang paling bawah ialah ego dinamik. Tingkat ini mencakupi variabel-variabel kepribadian seperti pengalaman pelajar, pandangan hidup, sikap, aspek-aspek efektif, gaya belajar kognitif, dan sebagainya.
Apakah model belajar itu dapat diterapkan pada belajar B2? Untuk menjawab pertanyaan itu perlu dicermati dulu persamaan dan perbedaan antara proses belajar B1 dan B2. Dengan; hal ini ada dua pendapat. Yang pertama menyatakan bahwa proses pemerolehan B1 menunjukkan persamaan dengan proses belajar B2. Pendapat ini merupakan titik tolak metode “alamiah” dan pengajaran bahasa. Pendapat lain menyatakan bahwa kedua proses belajar bahasa itu sangat berbeda. Titone mengatakan bahwa antara kedua proses belajar bahasa itu terdapat persamaan dan perbedaan.
1)      Pemerolehan B1 terjadi secara sementara (spontan) dan tidak dirancang, sedangkan proses belajar B2 disengaja dan dirancang.
2)      Pemerolehan B1 disertai dengan penguatan primer (misalnya kebutuhan mengkomunikasikan keinginan dan kehendak), sedangkan B2 diikuti dengan penguatan yang lebih lemah seperti anggukan dan angka.
3)      Pemerolehan B1 menunjukkan hasil yang nyata dari tidak memiliki kemampuan sama sekali sampai memiliki taraf kemampuan tertentu; pada waktu belajar B2 pelajar sudah memenuhi B1. Hal ini dapat merupakan model yang dapat ditransfer dalam belajar B2. Akan tetapi jika B1 dan B2 menunjukkan perbedaan (contrast), pengetahuan tentang B1 dapat mengakibatkan interferensi.
4)      Pelajar B2 telah memiliki kemampuan membedakan bunyi-bunyi dan struktur, sedangkan dalam pemerolehan bahasa anak kecil belajar dari awal mula.
5)      Pelajar B2 telah memiliki persepsi dan sikap kehadapan dengan budaya lain, yang mungkin berpengaruh terhadap proses belajarnya.
Adapun persamaan yang terdapat di antara kedua proses tersebut bersumber pada kenyataan bahwa baik pemerolehan B1 maupun B2 sama-sama manusia yang memiliki karakteristik belajar yang sama. Pad keduanya, motivasi merupakan titik awal proses belajar yang terjadi pada taraf ego-dinamik. Selain itu operasi taktik dan strategi terjadi baik dalam konteks belajar B1 maupun B2, meskipun dengan derajat dan cara yang berbeda.
Selanjutnya Titone mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar B2. Faktor-faktor itu ialah: (1) motivasi, (2) kontak dengan budaya lain, (3) faktor-faktor sosial ekonomi, (4) perbedaan jenis kelamin, (5) situasi di kelas, (6) hubungan guru siswa, (7) penyajian materi.
B.     Teori Pembelajaran Bahasa
1.      Teori Behavioris
Teori ini dimotori oleh B.F. Skinner dengan bukunya Verbal Behavir (1957)  (Sapani 1998:13) . Teori ini didasarkan pada teori pelajar stimulus-respon (S-R). berikut ini beberapa catatan penting mengenai teori pembelajaran atau pemerolehan bahasa menurut teori Behavioris.
  1. Teori belajar Behavioris ini bersifat empiris, didasarkan data yang dapat diamati.
  2. Kalau Behavioris menganggap bahwa:
1)  Proses belajar pada manusia sama dengan prose belajar pada binatang;
2)  Proses belajar bahasa adalah sebagian saja dari proses belajar pada umumnya;
3)  Manusia tidak memiliki potensi bawaan untuk belajar bahasa;
4)  Pikiran anak merupakan tabula rasa (kertas kosong) yang akan diisi dengan asosiasi S-R;
5)  Semua perilaku merupakan respon terhadap stimulus dan perilaku terbentuk dalam rangkaian asosiatif.
  1. Belajar bagi kaum behavioris adalah proses pembentukan hubungan asosiatif antara stimulus dan respon yang berulang-ulang sehingga terbentuk kebiasaan.
  2. Pengkodisian selalu disertai ganjaran penguatan asosiasi antara S-R.
  3. Bahasa adalah perilaku manusia yang kompleks di antara perilaku-perilaku lain.
  4. Anak menguasai bahasa melalui peniruan.
  5. Perkembangan bahasa seseorang ditentukan oleh frekuensi dan intensitas latihan yang disodorkan. Karena itu, tubian (drill) sangat penting pembelajaran bahasa behavioristik. Pemerolehan bahasa seolah secara disuapi.
2.      Teori Mentalis
Teori ini dimotori oleh Noam Chomsky (1959) dengan membahas dan menyerang pendapat Skinner. Berikut ini beberapa catatan mengenai teori pembelajaran atau pemerolehan bahasa menurut teori mentalis.
a.       Bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia.
b.      Perilaku bahasa adalah sesuatu yang diturunkan.
c.       Pemerolehan bahasa berlangsung secara alami.
d.      Pola perkembangan bahasa pada berbagai macam bahasa dan budaya. Lingkungan hanya memiliki peran kecil dalam pemerolehan bahasa.
e.       Anak (setiap orang) sudah dibekali apa yang disebut piranti penguasaan bahasa ‘Language acquisition device (LAD)’ sebagai bawaan dari lahir yang antara lain meliputi:
1)      Kemampuan membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi lain;
2)      Kemampuan menyusun bahasa menjadi sistem struktur;
3)      Pengetahuan tentang yang mungkin dan tidak mungkin diterima dalam sistem linguistik;
4)      Kemampuan untuk membangun sistem paling sederhana yang mungkin berdasarkan data yang tersedia.
Dengan LAD ini, anak-anak dalam waktu yang relatif singkat dan dengan masukan terbatas mampu menguasai bahasa.
f.       Aliran mentalis tidak setuju menyamakan proses belajar pada manusia dengan yang terjadi pada binatang. Manusia memiliki akal dan pikiran yang kompleks. Binatang hanya punya naluri.
g.      Belajar bahasa tidak hanya sekedar latihan-latihan mekanistis seperti ditonjolkan teori behavioris, melainkan lebih kompleks dari itu.
h.      Ada beberapa teori yang tergolong aliran mentalis ini, misalnya:
1)      Teori Tata bahasa Universal
2)      Teori monitor
3)      Teori kognitif
C.    Sumbangan Teori Pembelajaran Bahasa terhadap Proses Belajar Mengajar Bahasa
Telah dikemukakan bahwa salah satu kegunaan adalah praktik belajar dan mengajarkan bahasa, khususnya bahasa Indonesia.
1.      Sumbangan bagi Prinsip-prinsip Pengajaran Bahasa
Sumbangan yang dapat diberikan oleh teori-teori belajar bahasa antara lain seperti berikut ini.
  1. Prinsip belajar melalui latihan-latihan (learningby training). Banyak latihan merupakan satu-satunya peluang untuk menguasai suatu bahasa. Prinsip ini datang dari teori Behavioris.
  2. Prinsip pemecahan masalah (problem solving) yaitu untuk menguasai suatu bahasa dengan baik, tidak mungkin melalui latihan-latihan mekanistis. Hal itu dikarenakan bahasa adalah alat komunikasi yang kompleks yang melibatkan pula kognisi (kemampuan berpikir) para pembelajar. Cara yang dapat ditempuh misalnya:
1)      menyuruh siswa menyusun karangan,
2)      menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan
3)      melakukan ekspose.
Prinsip ini datang dari teori Mentalis.
  1. Prinsip pemberian ganjaran/penguatan (reinforce-ment) yaitu setiap kali siswa berhasil melakukan suatu pembelajaran dengan baik, guru memberikan ganjaran berupa pujian, dorongan semangat, atau nilai tambahan. Prinsip ini sebenarnya dilakukan untuk memotivasi belajar siswa.
  2. Prinsip belajar lebih penting daripada mengajar (CBSA) mempunyai arti bahwa yang berperan aktif dalam proses pembelajaran adalah siswa. guru hanya berperan sebagai pembimbing itu pun kalau diperlukan.
  3. Prinsip dari yang diketahui ke yang belum diketahui mempunyai arti bahwa dalam mengerjakan sesuatu guru harus mulai dari sesuatu yang telah dikenal siswa menuju sesuatu yang baru bahkan sama sekali belum dikenal siswa. prinsip ini berarti pula, pelajaran itu harus dimulai dari sesuatu yang mudah kepada sesuatu yang lebih sukar.
  4. Prinsip pemahaman dulu baru penggunaan (reseptif mendahului produktif) berarti penekanan pembelajaran harus dimulai dengan segala hal yang bersifat kognitif. Setelah tingkat kognitif dipahami baru dilanjutkan dengan tingkat praktik atau penggunaannya.
2.      Sumbangan bagi Teknik-teknik Pengajaran / Pembelajaran Bahasa
Teknik pengajaran atau pembelajaran adalah cara-cara pelaksanaan pengajaran/pembelajaran atau cara penyajian bahan di kelas. teknik ini juga dimaksudkan sebagai penerapan prinsip-prinsip dalam aktivitas belajar mengajar di kelas. sumbangan teori belajar bahasa bagi teknik pengajaran/pembelajaran antara lain sebagai berikut ini.
a.       Teknik Penubian (drill) untuk penguasaan berbagai keterampilan dan komponen bahasa.
b.      Teknik permainan Peniruan (mimicry) untuk mempelajari berbagai model dalam bahasa. Pemakaian teknik harus dibatasi dan selektif.
c.       Teknik Permainan Bahasa (language games) adalah mengajarkan berbagai keterampilan dan komponen bahasa melalui berbagai permainan yang menarik minat dan partisipasi siswa.
d.      Teknik Bermain Peran (rele play) dapat mengaktifkan siswa. teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk menggunakan bahasa yang otenik. Teknik ini lahir prinsip belajar lebih penting daripada mengajar dan penggunaan bahasa yang otentik.
3.      Sumbangan bagi Metode Pengajaran Bahasa
Banyak metode pengajaran bahasa terutama metode pengajaran bahasa kedua (seperti metode untuk mengerjakan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kita pada umumnya) lahir dari teori-teori linguistik terapan.
a.       Metode Langsung (Direct Mothod) dan Metode Audiolingual (Audiolingual Method) adalah dua metode yang muncul berdasarkan teori Behavioris dengan latar belakang psikologi behavioral dan linguistik deskriptif. kedua metode ini sudah sangat terkenal dan berkembang selama Perang Dunia kedua sampai kira-kira tahun 1960-an.
b.      Metode cara Diam (Silent Way) adalah metode yang muncul berdasarkan teori kognitif (salah satu cabang teori mentalis). Metode ini bekerja antara lain berdasarkan prinsip teaching should belajar subordinated to learning, siswalah yang aktif selama proses belajar mengajar berlangsung. Guru harus lebih banyak diam. Guru lebih banyak berperan sebagai pengatur laku (seperti sutradara dalam pertunjukkan drama). Pelajaran dimulai dari hal-hal yang sudah dikenal siswa.
c.       Metode alamiah (Natural Appriach / method) dan Metode Respon Fisik Total (Total Physical Response) adalah dua contoh metode yang berasal dari teori mentalis yang menggunakan prinsip bahwa belajar harus berlangsung secara alamiah. Kedua metode ini memulai pelajaran bahasa dengan latihan menyimak sebelum berbicara. Hal ini didasarkan kepada kenyataan yang terdapat pada bayi. Bayi belajar bahasa mulai dengan kegiatan menyimak selama berbulan-bulan kemudian berbicara sedikit demi sedikit.
4.      Sumbangan bagi Bahan Pelajaran Bahasa
Teori belajar bahasa juga memberikan sumbangan berkenaan dengan bahan yang akan diajarkan serta bentuk bahan tersebut.
a.       Teori Behavioris cenderung mengutamakan penyediaan materi-materi pelajaran bahasa yang sudah disusun sedemikian rupa untuk dijadikan model-model yang akan ditiru siswa melalui berbagai teknik latihan, seperti teknik penubian pola-pola (patterns drill) dan teknik substitusi.
b.      Teori mentalis cenderung mengutamakan materi-materi otentik yang sesuai dengan penggunaan bahasa yang sebenarnya agar berjalan secara alamiah.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Ada dua teori belajar bahasa yaitu teori empirisme dan rasionalisme. Teori belajar behavioris bersifat empiris, didasarkan atas data yang dapat diamati. Kaum behavioris menganggap bahwa proses belajar bahasa adalah sebagian aja dari proses belajar pada umumnya. Kaum behavioris berpendapat bahwa pikiran anak merupakan  tabula rasa (kertas kosong) yang akan diisi dengan asosiasi antara S dan R. Belajar adalah proses pembentukan hubungan asosiatif antara stimulus dan respon yang berulang-ulang. Pembentukan kebiasaan ini disebut pengkondisian. Bahasa manusia merupakan suatu sistem respons yang canggih yang terbentuk melalui pengkondisian operant/ belajar verbal (bahasa). Teori belajar bahasa yang termasuk aliran rasionalisme ialah teori tata bahasa universal, teori dan teori kognitif.
2.      Teori pembelajaran bahasa meliputi teori: behavioris dan mentalis. Teori mentalis meliputi teori tata bahasa universal, teori monitor, dan teori kognitif. Teori tata bahasa universal mencakup seperangkat elemen gramatikal atau prinsip-prinsip yang secara alami ada pada semua bahasa manusia. Prinsip-prinsip ini  merupakan hasil perangkat perolehan bahasa (LAD) yang mencakup prinsip-prinsip universal substantif dan prinsip universal formal. Menurut Chomosky prinsip universal yang “ditemukan” oleh anak membentuk “tata bahasa inti” yang sama dalam semua bahasa. Krashen mengemukakan model belajar yang disebut “model monitor” yang mencakup 5 hipotesis, yaitu perbedaan perolehan dan proses belajar bahasa hipotesis tentang urutan alamiah perolehan struktur gramatikal, hipotesis masukan, dan hipotesis saringan. Menurut Krashen, belajar hanya dapat berfungsi sebagai monitor bila disertai dengan kondisi yang memadai. Melalui perolehan yang terjadi di bawah sadar anak-anak mendapatkan intuisi bahasa (rasa bahasa), yang tidak diperoleh melalui proses belajar terutama pada tahap awal.Teori kognitif bersumber pada psikologi kognitif dan berfokus pada proses kognitif yang lebih umum. Menurut teori kognitif, belajar bahasa terjadi sebagai pemerolehan keterampilan kognitif yang kompleks. Untuk mencapai kemahariran bahasa sub-subketerampilannya harus dilatih, diotomatisasikan, diintegrasikan, dan diorganisasikan ke dalam sistem yang sudah dimiliki, yang selalu berubah strukturnya sesuai dengan perkembangan kemahiran.
3.      Sumbangan teori pembelajaran bahasa terhadap proses belajar mengajar bahasa adalah sumbangan terhadap prinsip-prinsip pengajaran bahasa, teknik pengajaran bahasa, metode pengajaran bahasa, dan bahan pelajaran.
B. Saran
1. Tidak ada teori belajar bahasa yang lengkap, maka bagi pembaca haruslah memahami semua teori tentang belajar bahasa sehingga dapat memilih yang manakah teori yang relevan dalam belajar bahasa dengan mempertimbangkan kondisi daerah dan sipebelajar.
2.   Teori pembelajaran bahasa seyogianya dipahami oleh guru agar tidak salah memilih teknik, metode, dan bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa.
3. Gunakalah teori belajar bahasa untuk menyusun strategi belajar mengajar agar pembelajaran terarah dan sistematis serta belandaskan teori yang teruji kebenarannya.



Daftar Pustaka

Akhadiah, Sabarti dkk. 1998. Teori Belajar Bahasa. Jakarta: Depsiknas.
Hadley, Alice Omoggio. 1993. Teaching Language in Context. Boston: Heinle& Heninly Publidhers.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1997. Pokok-pokok Pengajaran Bahasa dan Kurikulum 1994 Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Sapani, Suardi dkk. 1998. Teori Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Ster, H.H. 1983. Fundamental Concepts of Language Teachin. Oxford: Oxford University Press.
Comments
0 Comments

No comments:

KOTAK SARAN

Name

Email *

Message *