SELAMAT DATANG! SEMOGA PERSEMBAHAN KAMI DALAM BLOG INI BERMANFAAT! JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR PADA TULISAN KAMI! TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG!

Friday, September 11, 2026

Pagi Ini, Saya Belajar dari Antrean BBM

Pagi ini saya datang ke SPBU dengan tujuan yang sangat sederhana: isi BBM, lalu lanjut beraktivitas.

Sebagai guru, saya sudah punya cukup banyak agenda untuk hari ini. Jadi, tidak ada niat sedikit pun untuk mengikuti diskusi ekonomi, sosial, apalagi politik.

Tapi ternyata pagi ini saya mendapat “kelas” tambahan.

Begitu sampai di SPBU, kendaraan sudah berjejer cukup panjang. Motor, mobil, semuanya menunggu giliran.

Saya pun ikut masuk barisan.

Beberapa menit pertama masih tenang. Ada yang main HP, ada yang menelepon, ada yang sesekali melongok ke depan.

Lalu seorang bapak di dekat saya mulai membuka percakapan.

“Kalau begini terus, bagaimana harga barang nanti?”

Nah…

Itu rupanya kalimat pembuka.

Setelah itu, obrolan berkembang seperti grup WhatsApp yang adminnya sudah kehilangan kendali.

Dari BBM pindah ke beras.

Dari beras ke minyak goreng.

Dari minyak goreng ke cabai.

Dari cabai ke ongkos transportasi.

Dari ongkos transportasi ke penghasilan.

Dan seperti biasanya…

akhirnya sampai juga ke politik.

Saya memilih tersenyum dan mendengarkan.

Dalam hati saya berpikir:

“Ini bukan antre BBM lagi. Ini sudah berubah menjadi rapat rakyat edisi santai.”

Tidak ada moderator.

Tidak ada notulen.

Tidak ada PowerPoint.

Tetapi pendapatnya lengkap.

Ada yang mengeluh.

Ada yang mencoba memahami keadaan.

Ada yang punya analisis sendiri.

Ada yang mengingatkan agar masyarakat tidak panik.

Ada pula yang melihat persoalan ini dari sisi yang berbeda.

Menariknya, semuanya berbicara dari apa yang mereka lihat dan rasakan.

Sebagai guru sekaligus pengamat, saya justru tertarik memperhatikan percakapan itu.

Bukankah sebenarnya masyarakat sedang melakukan sesuatu yang sangat manusiawi?

Mereka sedang mencoba memahami keadaan.

Ketika BBM sulit didapat, pertanyaan mereka ternyata bukan hanya:

“Di mana dapat bensin?”

Tetapi berkembang menjadi:

“Kalau BBM sulit, harga barang bagaimana?”

“Kalau harga naik sementara penghasilan tetap, bagaimana?”

“Kalau ongkos transportasi bertambah, usaha kecil bagaimana?”

“Kalau semuanya ikut berubah, keluarga harus bagaimana?”

Saya tiba-tiba teringat kelas.

Di sekolah, kita mengajarkan anak-anak memahami hubungan sebab-akibat.

Pagi ini saya melihat masyarakat sedang mempraktikkannya secara langsung.

BBM → transportasi → distribusi → harga barang → penghasilan → kehidupan sehari-hari.

Tidak ada rumus.

Tidak ada teori.

Tetapi mereka sedang membaca realitas dengan caranya sendiri.

Mungkin inilah salah satu bentuk literasi kehidupan.

Ada satu hal yang semakin membuat saya berpikir.

Kita sering membaca berita tentang harga, ekonomi, kebijakan, dan berbagai persoalan publik melalui layar HP.

Tetapi ketika mendengarnya langsung dari masyarakat, ceritanya terasa berbeda.

Angka berubah menjadi pengalaman.

“Harga naik” bukan lagi sekadar berita.

Ia bisa berarti:

“Belanja saya sekarang harus dikurangi.”

“Modal usaha saya bertambah.”

“Ongkos saya naik.”

“Pendapatan saya tetap.”

Dan di situlah saya belajar sebagai pengamat:

realitas masyarakat tidak selalu datang dalam bentuk data. Kadang ia hadir dalam bentuk percakapan sederhana.

Tentu saja, tidak semua yang dibicarakan pagi ini pasti benar.

Namanya juga obrolan.

Ada informasi yang mungkin belum lengkap.

Ada dugaan.

Ada pendapat pribadi.

Ada pula kesimpulan yang mungkin terlalu cepat.

Tetapi saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang harus selalu diperdebatkan sampai ada yang menang dan ada yang kalah.

Saya justru melihatnya sebagai cermin kecil.

Cermin tentang apa yang sedang dipikirkan masyarakat.

Apa yang membuat mereka khawatir.

Apa yang mereka harapkan.

Dan bagaimana sebuah persoalan yang terlihat sederhana ternyata bisa menyentuh banyak sisi kehidupan.

Karena itu, saya kira mendengar masyarakat tidak selalu harus melalui forum resmi.

Kadang cukup berada di tengah mereka.

Diam sebentar.

Dengarkan.

Dan jangan buru-buru merasa paling tahu.

Tidak lama kemudian, giliran saya tiba.

BBM terisi.

Saya pun melanjutkan perjalanan.

Tetapi ada sesuatu yang ikut terbawa pulang selain bahan bakar.

Sebuah kesadaran sederhana:

masyarakat sebenarnya tidak selalu menuntut kehidupan tanpa masalah.

Mereka hanya berharap ketika masalah muncul, ada penjelasan yang baik, ada ikhtiar untuk menyelesaikannya, dan ada rasa bahwa mereka tidak menghadapi semuanya sendirian.

Pemerintah punya tanggung jawab.

Masyarakat juga punya tanggung jawab.

Kita semua punya peran.

Karena itu, mungkin cara terbaik menghadapi situasi seperti ini bukan buru-buru mencari siapa yang salah.

Tetapi bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

“Apa yang bisa kita pahami?”

“Dan apa yang bisa kita lakukan agar keadaan menjadi lebih baik?”

Pagi ini saya datang ke SPBU sebagai seorang guru yang hanya ingin mengisi BBM.

Tetapi saya pulang dengan membawa pelajaran dari “kelas” yang tidak pernah saya rencanakan.

Ruang belajarnya bukan kelas.

Tidak ada papan tulis.

Tidak ada buku.

Tidak ada asesmen.

Hanya beberapa orang yang sedang menunggu sambil ngobrol ngalor-ngidul.

Namun dari obrolan itu saya belajar sesuatu.

Kadang-kadang, untuk memahami keadaan masyarakat, kita tidak perlu selalu membaca laporan yang tebal.

Dengarkan saja percakapan mereka.

Dengarkan apa yang mereka khawatirkan.

Dengarkan apa yang mereka harapkan.

Sebab di balik obrolan tentang BBM, sembako, harga, pekerjaan, bahkan politik, sebenarnya ada suara yang sangat sederhana:

“Kami hanya ingin hidup berjalan dengan baik.”

Dan sebagai guru, saya semakin percaya bahwa anak-anak kita tidak hanya perlu diajarkan bagaimana menjawab soal.

Mereka juga perlu belajar membaca kehidupan, memahami keadaan, mendengar orang lain, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Sebab ternyata, dunia nyata sering memberikan pelajaran dengan cara yang tidak biasa.

Pagi ini saya pergi ke SPBU untuk mengisi BBM.

Tidak disangka…

yang ikut terisi justru pikiran saya.

Wallahu a'lam bishawab

Comments
0 Comments

No comments:

KOTAK SARAN

Name

Email *

Message *