SELAMAT DATANG! SEMOGA PERSEMBAHAN KAMI DALAM BLOG INI BERMANFAAT! JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR PADA TULISAN KAMI! TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG!

Saturday, February 7, 2026

Sekolah Kita, Tempat Bertumbuh atau Sekadar Bertahan?

Setiap kali kita membicarakan mutu pendidikan, ada satu kebiasaan lama yang hampir selalu muncul: kita langsung mencari siapa yang harus disalahkan. Ketika pembelajaran tidak hidup, ketika guru tampak kehilangan gairah, atau ketika perubahan sulit bergerak, sorotan pertama biasanya tertuju pada individu. Kita mudah berkata, “gurunya kurang kompeten,” “mental kerjanya lemah,” atau “salah rekrut orang.” Tanpa sadar, kita menjadikan individu sebagai pusat masalah, seolah-olah semua persoalan bermuara pada kualitas personal semata.

Dari cara pandang itulah lahir solusi yang juga berulang. Kita mengirim guru ke pelatihan, menambah sertifikat, memperketat seleksi, bahkan mengganti orang lama dengan wajah baru. Harapannya sederhana: dengan orang yang lebih baik, hasil pun akan membaik. Namun kenyataan sering berkata lain. Guru baru datang dengan semangat menyala, ide segar, dan harapan besar. Beberapa bulan kemudian, semangat itu meredup. Ia mulai menyesuaikan diri bukan untuk berkembang, tetapi untuk bertahan.

Perubahan itu tidak terjadi tiba-tiba. Ia tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Ketika ide tidak pernah ditanggapi serius. Ketika inisiatif justru dianggap merepotkan. Ketika kesalahan kecil dibesar-besarkan, sementara keberanian mencoba tidak pernah diapresiasi. Perlahan, guru belajar satu hal penting: aman itu berarti diam. Dalam sistem seperti ini, menjadi biasa saja terasa jauh lebih selamat daripada mencoba menjadi lebih baik.

Di titik inilah pernyataan Michael Fullan terasa sangat menohok dan sulit dibantah. Ia berkata secara lugas:
“Jika Anda menaruh orang baik di dalam sistem yang buruk, maka sistem yang akan menang setiap saat.”
(Put good people in bad systems, the system wins every time.)

Kutipan ini seharusnya menghentikan kebiasaan kita menyalahkan individu. Karena ia menegaskan satu hal penting: sebaik apa pun kualitas manusianya, sistem tetap memegang kendali. Sistemlah yang menentukan apakah potensi tumbuh atau justru terkikis pelan-pelan.

Sayangnya, banyak sekolah tanpa sadar memelihara sistem yang tidak sehat. Budaya kerja yang individualistik dianggap normal. Guru bekerja sendiri-sendiri seperti lone ranger. Rapat lebih sering menjadi ruang instruksi satu arah, bukan dialog. Kesalahan diperlakukan sebagai pelanggaran, bukan kesempatan belajar. Administrasi menumpuk dan menguras energi. Semua ini membentuk “kolam” yang keruh dan kita sering lupa bahwa ikan hidup di dalamnya setiap hari.

Ironisnya, perhatian kita justru terlalu besar pada human capital. Kita sibuk meningkatkan kualitas individu lewat pelatihan dan rekrutmen, tetapi lupa membangun social capital: kualitas relasi, kepercayaan, dan budaya kerja. Padahal, guru tidak hanya membutuhkan kompetensi, tetapi juga ruang aman untuk berpikir, berpendapat, dan bereksperimen. Tanpa itu, pelatihan terbaik pun akan kehilangan daya ubahnya.

Sekolah yang sehat bukanlah sekolah yang bebas masalah, melainkan sekolah yang mampu belajar dari masalah. Di dalamnya, guru merasa didengar, bukan diawasi berlebihan. Kolaborasi bukan slogan di dinding, melainkan praktik sehari-hari. Dalam sistem seperti ini, guru biasa bisa tumbuh menjadi luar biasa karena lingkungan mendukung pertumbuhan, bukan sekadar menuntut hasil.

Sebaliknya, sistem yang sakit menciptakan kelelahan kolektif. Guru menghabiskan energi bukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi untuk bertahan dari tekanan struktural. Dalam jangka panjang, yang dirugikan bukan hanya guru, tetapi juga peserta didik. Karena pembelajaran yang bermakna sulit lahir dari pendidik yang kehilangan daya hidupnya.

Tulisan ini bukan untuk menyederhanakan persoalan atau meniadakan peran individu. Ini adalah ajakan untuk menggeser fokus refleksi kita. Sebelum bertanya “siapa yang bermasalah?”, mungkin kita perlu bertanya lebih jujur: “sistem seperti apa yang sedang kita rawat?” Apakah sekolah kita menjadi ruang yang menumbuhkan keberanian dan pembelajaran, atau justru ruang yang pelan-pelan mematikan inisiatif?

Membangun sistem yang sehat memang tidak mudah dan tidak instan. Ia menuntut keberanian untuk bercermin, kerendahan hati untuk mengakui kekurangan, serta kesediaan untuk mengubah budaya yang sudah lama dianggap wajar. Namun di situlah esensi kepemimpinan pendidikan diuji, bukan pada seberapa keras kita menekan orang, tetapi pada seberapa sungguh-sungguh kita membangun lingkungan yang memungkinkan orang bertumbuh.

Pada akhirnya, pendidikan tidak pernah benar-benar gagal karena kekurangan orang baik. Ia sering tersendat karena kita membiarkan sistem yang lelah, budaya yang kaku, dan kebiasaan yang tidak lagi relevan terus berjalan tanpa refleksi. Kita berharap guru terus berinovasi, sementara ruang untuk berinisiatif kita persempit. Kita menuntut perubahan, tetapi masih nyaman dengan cara lama. Di titik inilah kejujuran menjadi penting: perubahan tidak akan lahir dari slogan, melainkan dari keberanian menata ulang cara kita bekerja bersama.

Maka, refleksi ini seharusnya tidak berhenti sebagai bacaan, apalagi sekadar wacana. Ia perlu menjelma menjadi pertanyaan yang terus mengganggu kesadaran kita: apakah sekolah kita menjadi tempat bertumbuh atau sekadar tempat bertahan? Apakah guru datang dengan semangat untuk belajar dan berbagi, atau hanya menjalani rutinitas agar hari segera usai? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak nyaman, tetapi justru di sanalah pintu perubahan mulai terbuka.

Jika kita sungguh ingin melihat pendidikan bergerak maju, maka perhatian kita harus bergeser dari sekadar memperbaiki individu menuju membangun ekosistem. Sistem yang sehat tidak lahir dari kontrol berlebihan, melainkan dari kepercayaan. Budaya yang kuat tumbuh bukan dari ketakutan akan salah, tetapi dari keberanian untuk mencoba dan belajar bersama. Ketika kolaborasi menjadi kebiasaan, dan refleksi menjadi budaya, maka perubahan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan bersama.

Pada akhirnya, tugas kita bukan hanya mencari guru-guru hebat, tetapi memastikan bahwa kehebatan itu memiliki ruang untuk tumbuh. Bukan hanya menuntut kinerja, tetapi menyiapkan lingkungan yang memungkinkan kinerja terbaik muncul secara alami. Karena sebesar apa pun potensi manusia, ia akan selalu kalah jika harus berhadapan dengan sistem yang mematahkan.

Maka marilah kita mulai dari diri dan lingkungan terdekat kita. Menata ulang cara berkomunikasi, membuka ruang dialog, menghargai proses, dan membangun kepercayaan sedikit demi sedikit. Perubahan besar dalam pendidikan hampir selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Dan ketika suatu saat kita bertanya mengapa sekolah ini berubah menjadi lebih hidup, lebih hangat, dan lebih bermakna, jawabannya mungkin sederhana: bukan karena kita menemukan orang-orang yang sempurna, tetapi karena kita akhirnya berani merawat kolam tempat mereka tumbuh.

(Disadur dari berbagai tulisan di sosial media)

Comments
0 Comments

No comments:

KOTAK SARAN

Name

Email *

Message *